Menyoal Buku : Dunia harus berubah, tangan tuhan di balik virus flu burung

Perjuangan menentang neo kolonialisme, menentang perlakuan yang tidak adil dari seorang srikandi Indonesia “Siti Fadilah Supari” menteri kesehatan Republik Indonesia. Beliau digambarkan begitu lantang bersuara melawan raksasa dunia “Amerika” begitu negara ini disebut. Menentang sebuah konsep yang telah 50 tahun di pakai, konsep yang merugikan negara-negara kecil, konsep yang hanya menguntungkan para pemilik modal, konsep yang membuat si miskin semakin menderita dan si kaya semakin Berjaya. GISN, sebuah mekanisme virus sharing yang telah  ditetapkan dan diterapkan serta disepakati negara-negara yang tergabung dalam WHO.

Berawal dari kejadian flu burung yang menjadi outbreak di Indonesia. Indonesia pun berguncang begitu juga sang menteri kesehatan, terlebih dengan pemberitaan yang menyebutkan telah terjadi penularan flu burung dari manusia ke manusia, bukan lagi dari unggas ke manusia seperti lazimnya terjadi. Di prediksi ini adalah awal dari pandemic flu burung didunia. Indonesia sesuai dengan mekanisme GISN wajib mengirimkan virus flu burung dari penderita di Indonesia ke WHO CC.

Di lain pihak dengan munculnya kejadian outbreak flu burung di Indonesia, menyebabkan negara-negara di dunia memborong vaksin flu burung yang ada, yang di buat dari starin virus Vietnam. Namun hanya negara kaya yang mampu menyiapkan diri karena harga vaksin yang tinggi. Dan Indonesia sebagai negara yang mengalami outbreak sulit untuk mendapatkannya.

Dan diketahui pula ternyata hasil pembuatan dan penjualan vaksin strain Vietnam itu tidak memberikan timbale balik apapun bagi negara Vietnam. Ironis sebuah eksploitasi atas penderitaan sebuah negara yang sedang bergulat melawan flu burung.

Atas kenyataan itulah menteri “siti fadilah supari” terketuk hatinya untuk bergerak dan dengan lantang menyuarakaan kebenaran. Di minta nyalah kembali virus yang sudah diberikan oleh Indonesia ke WHO CC, ternyata virus itu sudah berpindah tangan kesebuah laboratorium di bawah departemen energy Amerika Serikat yang mana dulu disana di buat bom atom untuk mengebom hirosima dan Nagasaki. Akankah wild virus itu akan dijadikan senjata biologis ?. Dan di ketahui pula bahwa dari 15 ilmuwan di WHO cc hanya 3 ilmuwan yang berasal dari WHO, selebihnya tidak di ketahui identitasnya secara resmi.

Dengan Kekuasaannya sebagai menteri kesehatan Indonesia, ia mengambil kebijakan yang cukup membanggakan. Ia meminta laboratorium di Indonesia untuk juga meneliti tentang flu burung. Dan Ia pun dengan lantang bersuara di forum-forum internasional yang diadakan oleh WHO agar adanya transaparansi dalam mekanisme virus sharing. Dan merubah konsep yang sudah 50 tahun dipakai dan jelas-jelas tidak adil. Atas keberaaniannya inilah ia mendapat apresiasi dari media dan negara-negara internasional. Bagaimana sebuah negara harus duduk sama rendah berdiri sama tinggi, begitulah kalimat yang sering kali ia tuliskan dalam bukunya.

Sebuah buku berjudul Saatnya Dunia Berubah, tangan tuhan di balik virus flu burung, buku  menarik yang dituliskan oleh menteri Kesehatan Republik Indonesia. Meskipun bahasanya merupakan bahasa penuturan yang juga terlihat sangat subjektif, karena sudut pandang yang digunakan hanyalah dari sang penulis sekaligus pelaku. Namun buku ini cukup menggambarkan bagaimana Indonesia memiliki menteri kesehatan yang berani berjibaku di tataran global meneriakan keadilan.

Semoga Buku ini bukan menjadi sekadar buku pendongkrak popularitas sang penulis di akhir masa jabatan beliau. Semoga buku ini menjadi inspirasi banyak orang untuk bergerak menegakkan keadilan.

Dan Sebuah harapan untuk seorang menteri Kesehatan bernama “Siti Fadilah Supari” Ia telah berani berteriak lantang di tataran Global. Anda juga harus membuktikan di tataran lokal Indonesia, bahwa kesehatan ialah hak semua orang. Bahwa Setiap warga negara di Indonesia berhak atas akses pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkau.. Tidak ada lagi seseorang yang meninggal karena tidak mendapatkan akses kesehatan yang memadai, seseorang diusir dari rumah sakit karena tidak mempunyai biaya. Tidak ada lagi busung lapar, tidak ada lagi bayi-bayi kelaparan, Indonesia harus menjadi negara yang sehat, semoga….. amin.

Membaca pelangi

Layaknya melihat pelangi, membaca buku ini seperti melihat untaian warna yang dirajut menjadi suatu kesatuan yang menarik, bersemangat, dan penuh akan nilai, Membayangkan seolah menjadi bagian dari anak-anak “sekolah kampung” muhammadiyah yang menamakan kelompok mereka laskar pelangi begitu mennghanyutkan. Laskar pelangi sebuah nama pemberian Bu Mus karena kegemaran kolektif sepuluh anak  seangkatan yang sering bertengger di dahan  fillicium untuk memandangi pelangi ketika musim hujan tiba.

Membaca buku ini, awalnya hanya tertarik karena pengaruh beberapa teman yang mengatakan buku ini sangat bagus, dan ternyata pandangan beberapa teman itu ridak lah salah. Begitu pula dengan tulisan kuning dalam sebuah garis merah di sampul buku paling atas, yang berbunyi Indonesia’s Most Powerfull Nook. Buku ini memang mengandung kekuatan nilai yang menggugah hati pembacanya.

memulai kisah laskar pelangi dengan cerita tahun ajaran baru sebuah sekolah kampong reot yang mirip dengan gudang kopra. Dan kegelisahan murid, orang tua bahkan guru untuk memulai belajar. Menggugah karena demi untuk bersekolah banyak hal yang harus di korbankan. Membuat hati terbuai untuk te3rus membaca menghabiskan halaman demi halaman selanjutnya.

Penggambaran anak-anak laskar pelangi dan orang-orang disekitarnya. Yang setiap orang memiliki karakteristik unik. Membuat buku ini menjadi semakin menarik. Lintang yang sangat jenius, mahar yang begitu “nyeni”, akiong, sahara, syahdan, ikal, harun, Trapani, kucai, borek, Flo. Kumpulan anak-anak yang menjalani sebuah persahabatan dan perjalanan hidup yang luar biasa.

Melalui buku ini juga banyak diajarkan nilai-nilai agama dengan bahasa yang mydah, bagaimana para anggota laskar pelangi yang diam dan hening mendengarkan suara adzan, bagaimana ditanamkan bahwa berbohong itu dosa, dan bagaimana sebuah usaha besar dan keyakinan yang kuatlah yang akan membuat hidup ini menjadi lebih menyenangkan dan dapat merubah suatu nasib seseorang.

Buku ini sangat menggugah hati dengan pengorbanan dan perjuangan seorang guru. buku ini pun begitu menggambarkan bahwa pendidikan itu begitu penting. Disisipkannya kisah cinta sebagai bumbu membuat buku ini semakin menarik, dan membuat pembaca ikut tersenyum membuka lembar demi lembar halaman yang menceritakan sebuah cinta pada pandangan pertama.

Namun, alur cerita yang loncat-loncat membuat sulit untuk memahami sebetulnya saat membaca halaman itu laskar pelangi sedang berada di kelas berapa?. Penggambaran biologis tentang suatu tumbuhan ataupun hewan menjadi hal unik tersendiri namun sayang dibagian itu seringkali kecepatan membaca ditambahkan dan bagian itu menjadi tak terperhatikan.

 Menarik dan menggugah, buku yang bagus untuk dibaca, ingin segera membaca buku keduanya “sang pemimpi” tapi sabar…. Bulan februari saja bacanya… karena ada beberapa buku lain yang harus di baca terlebih dahulu ^_^. 

“Nasib, Usaha dan Takdir bagaikan tiga bukit biru samar-samar yang memeluk manusia dalam lena. Mereka yang gagal tak jarang menyalahkan aturan main tuhan. Jika mereka miskin mereka mengatakan bahwa tuhan melalui takdir-Nya memang mengharuskan mereka miskin.           

Bukit-bukit itu membentuk konspirasi rahasia massa depan dan definisi yang sulit dipahami sebagian orang. Sehingga seorang yang lelah berusaha menunggu takdir akan mengubah nasibnya. Sebaliknya, seseorang yang enggan membanting tulang menerima saja nasibnya yang menurutnya tak kan berubah karena semua telah ditakdirkan. Inilah lingkaran iblis yang umumnya melanda para pemalas. Tapi yang pasti pengalaman selalu menunjukan bahwa hidup dengan usaha adalah mata yang dirurup untuk memilih buah-buahan dalam keranjang. Buah apapun yang didapat kita teteap mendapat buah. Sedangkan hidup tanpa usaha adalah mata yang dirurup untuk mencari kucing hidatm didalam kamar gelap dan kucingnya tidak ada.” (andrea hirata, laskar pelangi)

Ditulis dalam Resume Buku. 1 Komentar »

Saya Tengah Membangun Peradaban

 

Saya Tengah Membangun Peradaban*

 

 

“Saya tengah Membangun Peradaban”, itulah jawaban pekerja bangunan kelima, yang digambarkan oleh Cahyadi takariawan dalam bukunya ketika menjabarkan visi tarbiyah dengan kisah lima pekerja bangunan yang sedang membangun mushala. Membangun peradaban merupakan sebuah cita rasa ideal yang harus sama-sama ditanamkan agar kita memiliki tujuan besar dalam bergerak.

Abdurahman An Nahlawi berpendapat bahwa ada tiga akar kata untuk istilah tarbiyah, yaitu :

  • 1. Rabayarbu, yang maknanya bertambah dan berkembang
  • 2. Rabiya-yarba, yang maknanya tumbuh dan berkembang
  • 3. Rabba-yarubbu, yang maknanya memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga, dan memperhatikan.

Imam Badhawi menyebutkan bahwa pada dasarnya kata Ar Rabb itu bermakna tarbiyah yang berarti setahap demi setahap.

Dr Ali Abdul Halim Mahmud memaknai tarbiyah sebagai cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (melalui kata-kata) maupun secara tak langsung (melalui keteladanan dan sarana-sarana lain) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.

Tujuan dari tarbiyah adalah untuk menjadi “manusia yang baik” :

Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bertaqwa”

Kegiatan Tarbiyah adalah gabungan antara teori, seni dan pengalaman. Tidak cukup melakukan kegiatan ini hanya berbekal teori, diperlukan system pengelolaan yang “cantik” dan tentunya pengalaman  untuk menghasilkan output yang baik. Kegiatan ini tidak mutlak memiliki tahapan-tahapan yang runtun dan detail yang harus dilakukan satu persatu dan tak boleh berimprofisasi. Tetapi kegiatan ini juga tidak dilakukan atas kreatifitas yang berlebihan yang didalamnya tidak ada pijakan dan pedoman yang kuat. Tarbiyah memiliki pedoman-pedoman dasar yang harus dipahami, agar ketika melakukan proses nya tidak terjadi penyimpangan, dan sisik keratifitas dibutuhkan untuk meng akselerasi, untuk memoles, dan untuk memper”cantik”nya.

Secara umum ada beberapa hal dasar yang harus disiapkan pertama kali :

  • 1. Manajemen personal

Mengenali muttarobi adalah hal yang sangat penting sebelum kita melakukan aktifitas tarbiyah. Bagaimana kondisi umum mereka, bagaimana latar belakang aktifitasnya dan kapasitasnya, adalah beberapa hal yang harus kita ketahui.

  • 2. Manajemen kelompok

Memilihkan metode yang tepat, apakah akan dilakukan secara fardiyah atau kelompok. Dan ketika akhirnya harus dilakukan secara kelompok (halaqoh) kedekatan emosional dan kondisi dari teman-teman sekelompok adalah hal yang harus diperhatikan untuk menciptakan iklim dan Susana yang dinamis.

  • 3. Manajemen Murrabi

Tidak sembarangan orang bisa mejadi murrobi, ada kewajiban minimal yang harus ia penuhi baik secara ahlak dan sifat maupun kemampuan teknisnya. Karena Murrobi adalah teladan dan contoh.

  • 4. Manajemen Interaksi

Pola komunikasi kelompok yang harus dibangun sehingga halaqoh menjadi efektif, bersahabat dan produktif

Kesuksesan pengelolaan tarbiyah pun membutuhkan perangkat-perangkat, yaitu :

  • 1. Manajemen Sarana

Baik murrobi maupun mutarobi harus siap dengan peralatan tempurnya, Al-quran adalah mutlak  dibawa ketika halaqoh. Kitab hadis, Buku referensi, catatan, alat tulis menulis pun harus disiapkan agar halaqoh berjalan efektif.

  • 2. Manajemen Forum

Hal-hal yang akan dilakukan ketika Halaqoh pun harus jelas, apa agendanya, waktu dan bagaimana persiapannya.

  • 3. Manajemen Lingkungan

Lingkungan yang kondusif akan membawa efek yang negative. Perkembangan murobbi maupun mutarrobi akan mengalami akselerasi yang signifikan ketika lingkungan sekitarnya pun mendukung proses tarbiyah.

  • 4. Manajemen Kegiatan

Halaqoh tidak hanya duduk melingkar disuatu tempat, kemudian mendengarkan materi. Tarqiyah kelompok pun dibutuhkan, kegiatannya bisa beragam seperti : rihlah, mabit, silaturahmi, dauroh, dsb. Selain itu untuk meningkatkan kapasitas dari mutarobbi tadribah juga harus dilakukan, misal dengan pelibatan organisasi, mengisi dauroh, dan pengelolaan halaqoh.

Selain Perangkat keras (hardware) yang sudah disebutkan diatas proses tarbiyah juga memerlukan system (software) agar tarbiyah bukan sekedar menjadi rutinitas, yaitu :

  • 1. Manajemen Materi

Penyampaian materi tidak sembarang dilakukan hatus jelas cakupannya dan perbandingan konsentrasi materi, juga variasi penyampaiannya. Tujuan utama bukanlah materi yang tersampaikan, tetapai muwashafat yang diharapkan dapat terlaksana.

  • 2. Manajemen Pemantauan

Evaluasi baik untuk murrobi maupun mutarabbi harus dilakukan, agar halaqoh senantiasa produktif dan dinamis. Mutabaah yaumiah, evaluasi, dan laporan kepada pemimpin kaderisasi adalah contohnya.

  • 3. Manajemen Problem

Jangan sampai masalah yang muncul tidak terselesaikan dan halaqoh menjadi gudang masalah. Cari akar masalahnya dan selesaikan, mekanisme punishment pun patut untuk dilakukan.

  • 4. Manajemen Seleksi

Sebuah keniscayaan adanya orang dengan potensi dan semanga lebih. Seleksi bukan untuk meninggalkan yang tidak berkembang. Tetapi untuk memacu agar perkembangan mutarrabi menjadi lebih signifikan. Pertimbangan lamanya tarbiyah, materi yang sudah disampaikan, muwashafat yang sudah tercapai adalah contoh pertimbangan dalam melakukan seleksi.

Pekerjaan tarbiyah bukanlah rutinitas tanpa makna, tarbiyah menjadi motor penggerak keseluruhan aktifitas dakwah, ia juga menjadi ruh dalam jasad dakwah. Jika proses tarbiyah ditinggalkan maka berarti dakwah akan hancur. Dan Peradaban Islam takkan terbangun.

Sesungguhnya setiap umat yang ingin membina dan membangun dirinya, serta berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan membela agamanya, haruslah memiliki kekuatan jiwa yang dahsyat.

“sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa-apa yang ada dalam jiwa mereka sendiri” (Ar Ra’du : 11).

Pada akhirnya, hanya Allah jualah yang menentukan hasil usaha kita……..

bagian kita adalah kesungguhan dalam bekerja dengan itqan didalammnya.

*Sebuah Resume dari buku Refleksi Diri Seorang Murobbi (Cahyadi Takariawan)